Selasa, 17 Mei 2016

Cerpen payung

Karya Siti aisyah

Suara denting penaku terdengar. Aku menulis kata demi kata dengan kebisingan dirumahku. Aku begitu terjatuh ke dalam tulisanku.
"Inan, itu ada temanmu dibawah" ucap seorang wanita sambil mengetuk kamarku.
"Hah siapa? Cwe apa cwo?" tanyaku.
"Cwe" balasnya.

Segera aku menuruni anak tangga. Aku melihat wajah seorang wanita tersenyum padaku, hatiku lega melihat seorang teman lamaku.
"Loh regina sama siapa? Ih kangen banget" ucapku.
"Itu aku sama rifky" ucap Regina.
"Ah bohong, ayo masuk reg" ucapku.
"Serius, ky ayo masuk" ucap Regina sambil mendongak keluar.

Aku diam menatap manik mata seorang pria yang sudah lama tidak kutemui. Wajahnya masih seperti dulu, selalu tenang. Ia tersenyum padaku.
"Nan, katanya Rina kamu mau nikah?" tanya Regina.
"Hah? Gak ko. Nikah sama siapa coba" ucapku.
"Itu kemarin Rina sama Aulia yang ngomong, makanya aku kesini" ucap Regina.
"Gak, cuma gosip. Kalian kok bisa bedua?" tanyaku.
"Iya kita udah janjian dari kemarin mau kesini. Demi kamu loh dia ijin kerja" ucap Regina.

Pria ini tetap tersenyum padaku. Aku hanya membalas senyum pria yang tubuhnya masih dibalut dengan pakaian kerja. Tidak kusangka, sekian lama tidak pernah bertemu, tubuhnya semakin menjulang tinggi layaknya seorang pria. Hidungnya yang runcing, kulitnya yang putih. Lelaki inilah yang dulu sering menjagaku.

Kami bertiga larut dalam perbincangan masa lalu. Kami tertawa bersama mengingat hal tersebut. Begitu indah hingga selalu teringat. Aku meminta kontak Regina dan Rifky agar selalu bisa komunikasi.

Delapan tahun yang lalu......
Aku memukul teman sekelasku, karena selalu saja menggangguku. Aku memukulnya dengan kotak pensil. Ari selalu saja menggangguku dengan berbagai cara. Rifky memarahi Ari karena menggangguku. Rifky adalah teman sekelasku. Ia satu-satunya jadi idola di sekolahku. Parasnya yang tampan dan ia merupakan cucu kepala sekolah, membuat ia menjadi idola. Aku selalu saja dilindunginya, dan aku suka dengan hal tersebut. Ya, aku menyukainya.
Tibalah hari kelulusan Sekolah Dasarku. Aku berlari kegirangan karena aku lulus. Tanpa kusadari, hari inilah terakhir bertemy dengannya.
***

Otakku masih terngiang akan hari kemarin. Aku masih tidak menyangka, aku akan bertemu lelaki pujaanku lagi. Delapan tahun tidak bertemu, dia masih jadi idolaku. Ya, walaupun ku tahu ini cuma cinta monyet sekolah dasarku.

Ponselku berdering, dan tertera nomor baru.
"Assalamualaikum Inan" ucap seorang lelaki.
"Walaikumsalam, ini siapa?" tanyaku.
"Rifky nan, malam ini ada acara gak?" tanya nya.
"Gada ky, kenapa ya?" ucapku.
"Makan yuk ntar malam, aku jemput jam tujuh ya" ucapnya.
"Ga usah ky, sms aja alamatnya ya" ucapku.
"Ok nan, see you" ucapnya.

Hatiku berdenyut tak karuan. Segera aku menarik nafas agar hatiku stabil. Aku memberanikan langkahku menuju meja makan yang ditempati seorang pria. Ia menoleh dan tersenyum padaku.
"Udah lama ya ky? Maaf ya" ucapku.
"Gak kok, baru aja" ucapnya.
Kami langsung memesan makanan. Aku mencubit lenganku sendiri, oh ternyata bukan mimpi.
"Kita berdua aja ky?" ucapku.
"Iya nan, gapapa kan?" ucapnya.
"Iya" ucapku dengan tersenyum.
"Kita terakhir ketemu saat lulusan SD ya" ucapnya.
"Iya, kamu sombong 8 tahun gada hubungin aku" ucapku dengan mengerutkan bibir.
"Aku kangen banget sama kamu nan" ucapnya.
"Ya gitulah, hal-hal konyol yang dulu pasti kita kangenin" ucapku.
"Iya lucu ya, pengen banget kaya diulang" ucapnya.
"Iya, eh makanan kita udah datang" ucapku.

Kami menyantap makanan masing-masing. Aku merapatkan kedua kakiku, suasana disini dingin sekali. Kami makan malam di cafe outdoor pinggir pantai. Aku menatap ombak yang indah. Aku selalu senang dengan ombak pantai, yang selalu bebas menggertakkan birunya.
"Suka pantai ya?" tanya Rifky.
"Iya, kamu juga suka?" tanyaku.
"Iya, segar ngeliat ombak" ucapnya.
"Enak ya jadi ombak" ucapku.
"Inan aku kangen banget sama kamu, bukan cuma kekonyolan kita, tapi lebih banyak ke kamu" ucapnya.
"Iya aku juga. Aku kira kita ngga bakal ketemu lagi" ucapku.
"Kita pasti ketemu nan" ucapnya.
"Oh ya? dan delapan tahun kita baru ketemy ky" ucapku.
"Iya memang itu yang kumau" ucap Rifky.
"Kenapa?" tanyaku dengan penasaran.
"Aku mau nemuin kamu, kalau sudah punya pekerjaan, aku gak mau kita dekat kalau aku masih tergantung orangtua.
"Hm gtu ya?" ucapku.
"Kamu ingat? Kamu masih punya utang sama aku" ucapnya.
"Utang apa? Utang mie gelas?" tanyaku(saat SD di koperasi cuma ada mie gelas).
"Bukan, kamu ingat aku dulu ada kasih surat dan kamu belum kasih jawaban" ucapnya.

Aku teringat memoriku saat itu. Ya, ia memberiku surat cinta. Aku tertawa mengingat hal tersebut.
"Ya ampun, itu udah lama banget ky, masih diingat aja. Lagian kan kita dulu masih kecil" ucapku.
"Serius nan, kamu dari dulu masih sama ya, susah peka" ucapnya.
***

Wajahku dipoles dengan make up setipis mungkin. Aku tersenyum didepan cermin. Segera aku duduk disebelah seorang pria. Terdengar akad nikah yang selalu kunanti. Ya, hari ini aku menikah.

Segera aku mencium punggung tangan pria yang bersamaku. Setelah delapan tahun, akhirnya lelaki inilah yang menikah denganku. Takdir Allah selalu indah bukan?. Berkali-kali bertemu orang yang membuat hatiku terbolak-balik. Berkali-kali aku berpayung, tetapi masih saja basah. Berkali-kali aku berlindung pada orang yang salah. Dan hari ini terjawab sudah, siapa payung yang pantas untukku berlindung. He's mine.

End

2 komentar: