Karya Siti aisyah
Suara denting penaku terdengar. Aku menulis kata demi kata dengan kebisingan dirumahku. Aku begitu terjatuh ke dalam tulisanku.
"Inan, itu ada temanmu dibawah" ucap seorang wanita sambil mengetuk kamarku.
"Hah siapa? Cwe apa cwo?" tanyaku.
"Cwe" balasnya.
Segera aku menuruni anak tangga. Aku melihat wajah seorang wanita tersenyum padaku, hatiku lega melihat seorang teman lamaku.
"Loh regina sama siapa? Ih kangen banget" ucapku.
"Itu aku sama rifky" ucap Regina.
"Ah bohong, ayo masuk reg" ucapku.
"Serius, ky ayo masuk" ucap Regina sambil mendongak keluar.
Aku diam menatap manik mata seorang pria yang sudah lama tidak kutemui. Wajahnya masih seperti dulu, selalu tenang. Ia tersenyum padaku.
"Nan, katanya Rina kamu mau nikah?" tanya Regina.
"Hah? Gak ko. Nikah sama siapa coba" ucapku.
"Itu kemarin Rina sama Aulia yang ngomong, makanya aku kesini" ucap Regina.
"Gak, cuma gosip. Kalian kok bisa bedua?" tanyaku.
"Iya kita udah janjian dari kemarin mau kesini. Demi kamu loh dia ijin kerja" ucap Regina.
Pria ini tetap tersenyum padaku. Aku hanya membalas senyum pria yang tubuhnya masih dibalut dengan pakaian kerja. Tidak kusangka, sekian lama tidak pernah bertemu, tubuhnya semakin menjulang tinggi layaknya seorang pria. Hidungnya yang runcing, kulitnya yang putih. Lelaki inilah yang dulu sering menjagaku.
Kami bertiga larut dalam perbincangan masa lalu. Kami tertawa bersama mengingat hal tersebut. Begitu indah hingga selalu teringat. Aku meminta kontak Regina dan Rifky agar selalu bisa komunikasi.
Delapan tahun yang lalu......
Aku memukul teman sekelasku, karena selalu saja menggangguku. Aku memukulnya dengan kotak pensil. Ari selalu saja menggangguku dengan berbagai cara. Rifky memarahi Ari karena menggangguku. Rifky adalah teman sekelasku. Ia satu-satunya jadi idola di sekolahku. Parasnya yang tampan dan ia merupakan cucu kepala sekolah, membuat ia menjadi idola. Aku selalu saja dilindunginya, dan aku suka dengan hal tersebut. Ya, aku menyukainya.
Tibalah hari kelulusan Sekolah Dasarku. Aku berlari kegirangan karena aku lulus. Tanpa kusadari, hari inilah terakhir bertemy dengannya.
***
Otakku masih terngiang akan hari kemarin. Aku masih tidak menyangka, aku akan bertemu lelaki pujaanku lagi. Delapan tahun tidak bertemu, dia masih jadi idolaku. Ya, walaupun ku tahu ini cuma cinta monyet sekolah dasarku.
Ponselku berdering, dan tertera nomor baru.
"Assalamualaikum Inan" ucap seorang lelaki.
"Walaikumsalam, ini siapa?" tanyaku.
"Rifky nan, malam ini ada acara gak?" tanya nya.
"Gada ky, kenapa ya?" ucapku.
"Makan yuk ntar malam, aku jemput jam tujuh ya" ucapnya.
"Ga usah ky, sms aja alamatnya ya" ucapku.
"Ok nan, see you" ucapnya.
Hatiku berdenyut tak karuan. Segera aku menarik nafas agar hatiku stabil. Aku memberanikan langkahku menuju meja makan yang ditempati seorang pria. Ia menoleh dan tersenyum padaku.
"Udah lama ya ky? Maaf ya" ucapku.
"Gak kok, baru aja" ucapnya.
Kami langsung memesan makanan. Aku mencubit lenganku sendiri, oh ternyata bukan mimpi.
"Kita berdua aja ky?" ucapku.
"Iya nan, gapapa kan?" ucapnya.
"Iya" ucapku dengan tersenyum.
"Kita terakhir ketemu saat lulusan SD ya" ucapnya.
"Iya, kamu sombong 8 tahun gada hubungin aku" ucapku dengan mengerutkan bibir.
"Aku kangen banget sama kamu nan" ucapnya.
"Ya gitulah, hal-hal konyol yang dulu pasti kita kangenin" ucapku.
"Iya lucu ya, pengen banget kaya diulang" ucapnya.
"Iya, eh makanan kita udah datang" ucapku.
Kami menyantap makanan masing-masing. Aku merapatkan kedua kakiku, suasana disini dingin sekali. Kami makan malam di cafe outdoor pinggir pantai. Aku menatap ombak yang indah. Aku selalu senang dengan ombak pantai, yang selalu bebas menggertakkan birunya.
"Suka pantai ya?" tanya Rifky.
"Iya, kamu juga suka?" tanyaku.
"Iya, segar ngeliat ombak" ucapnya.
"Enak ya jadi ombak" ucapku.
"Inan aku kangen banget sama kamu, bukan cuma kekonyolan kita, tapi lebih banyak ke kamu" ucapnya.
"Iya aku juga. Aku kira kita ngga bakal ketemu lagi" ucapku.
"Kita pasti ketemu nan" ucapnya.
"Oh ya? dan delapan tahun kita baru ketemy ky" ucapku.
"Iya memang itu yang kumau" ucap Rifky.
"Kenapa?" tanyaku dengan penasaran.
"Aku mau nemuin kamu, kalau sudah punya pekerjaan, aku gak mau kita dekat kalau aku masih tergantung orangtua.
"Hm gtu ya?" ucapku.
"Kamu ingat? Kamu masih punya utang sama aku" ucapnya.
"Utang apa? Utang mie gelas?" tanyaku(saat SD di koperasi cuma ada mie gelas).
"Bukan, kamu ingat aku dulu ada kasih surat dan kamu belum kasih jawaban" ucapnya.
Aku teringat memoriku saat itu. Ya, ia memberiku surat cinta. Aku tertawa mengingat hal tersebut.
"Ya ampun, itu udah lama banget ky, masih diingat aja. Lagian kan kita dulu masih kecil" ucapku.
"Serius nan, kamu dari dulu masih sama ya, susah peka" ucapnya.
***
Wajahku dipoles dengan make up setipis mungkin. Aku tersenyum didepan cermin. Segera aku duduk disebelah seorang pria. Terdengar akad nikah yang selalu kunanti. Ya, hari ini aku menikah.
Segera aku mencium punggung tangan pria yang bersamaku. Setelah delapan tahun, akhirnya lelaki inilah yang menikah denganku. Takdir Allah selalu indah bukan?. Berkali-kali bertemu orang yang membuat hatiku terbolak-balik. Berkali-kali aku berpayung, tetapi masih saja basah. Berkali-kali aku berlindung pada orang yang salah. Dan hari ini terjawab sudah, siapa payung yang pantas untukku berlindung. He's mine.
End
Aisyah's Blog
Selasa, 17 Mei 2016
Senin, 09 Mei 2016
Cerpen
Kekasihku Pencuri
Suasana pagi ini berhasil membangunkan tubuhku. Mataku terbuka perlahan, aku menghirup udara ini yang sangat menyejukkan. Desir angin ini menembus tubuhku hingga aku sangat merasakannya. Aku melakukan lari pagi hari ini. Kegiatan ini aku lakukan untuk mengisi sebagian waktuku. Usai lari pagi, segera aku menuju kerumah. Waktuku terasa kosong. Sekarang aku menikmati waktu liburku hanya di rumah, karena seminggu yang lalu aku sudah keluar kota untuk menikmati awal liburku. Liburanku kali ini terasa lama sekali, karena liburan semester kali ini selama tiga bulan.
Ponselku berdering, salah satu temanku mengajakku jalan ke salah satu mall tempat biasa aku berkunjung, namanya Rika.
“Sa kita ketemu disana saja ya, soalnya aku di tempat salah satu keluargaku di dekat sini. Jadi kalau kamu sudah mau pergi hubungi aku aja” ujar Rika saat menelpon.
Ya teman-temanku terbiasa memanggilku Salsa. Nama kepanjanganku Salsa Maharani. Walaupun nama belakang kurang kusukai, tetapi nama itulah yang diberikan orangtua kesayanganku.
Aku pergi saat sore hari. Hari ini sangat diluar dugaanku. Awalnya aku berfikir hari ini hari yang sangat menyenangkan. Dan sampailah aku di Mall Fantasi yang merupakan tujuan dari perjalananku tadi. Kuparkirkan motorku di belakang mall fantasi saja, agar tidak kejauhan dari pintu masuk.
Segera aku menuju untuk bertemu Rika. Kami banyak menghabiskan waktu untuk berbelanja.
Saat hendak pulang, aku menuju tempat parkirku. Ini kejadian yang sangat tak terduga. Motorku hilang, entah kemana. Aku bingung, takut, dan sangat gelisah. Bagaimana ini bisa terjadi.
“Rika, motorku gada. Perasaan tadi kutaruh disini” ujarku.
“Kita cari dulu yuk” kata Rika.Aku mencari kunci motor di dalam tasku sehingga barang-barang ku keluarkan. Namun, tidak ada juga gantungan monyet yang daritadi kucari.
“Rika kunciku juga gak ada” ucapku.
“coba cari lagi jangan buru-buru gitu” balasnya.
“nggak ada rika” ucapku dengan gelisah.
“Jangan-jangan kuncimu kamu tinggal di motor, terus ada yang ngelihat, terus motormu dibawa lari” balas Rika. Jawaban ini sungguh membuat tubuhku ingin jatuh.
Setengah jam aku bersama Rika sudah mencari motorku di area mall tersebut dengan berharap mungkin motorku di pindahkan oleh seseorang, tetapi tidak ada juga. Aku semakin takut.
“kita lapor aja yuk, aku capek mencari tapi gak ada juga” ucapku.
“kamu kan parkirnya bukan di dalam, coba kamu parkir di dalam kamu bisa menyalahkan pihak parkirnya” ucapnya.
“duh aku harus gimana. Aku takut pulang Rik, ini motor ayahku. Pasti aku dimarahin sama dia” ucapku.
Otakku seakan tidak bisa berfikir. Mengapa aku bisa mengalami kejadian sial di hari ini yang seharusnya menjadi hari yang menyenangkan. Akhirnya aku mengusulkan pendapat agar kekantor polisi. Rika menemaniku kekantor polisi dengan menggunakan motornya. Namun, tiba-tiba motor Rika berhenti. Motor rika mogok, aku pusing sekali. Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Peribahasa ini mengibaratkan keadaanku saat ini. Aku menghubungi salah satu sahabatku, aku berfikir sahabatku pasti menolongku. Namun kenyataanya sangat berbalik dari apa yang kuduga. Aku pasrah, mataku berkaca-kaca ingin menangis. Rika daritadi sibuk dengan ponselnya, “mungkin Rika mencari bantuan kepada temannya” pikirku. Aku marah kepada teman-temanku yang tidak bisa menolongku saat ini.
Sudah pukul 19.00 namun motor Rika tidak kunjung nyala. Rika terus mencoba motornya agar dapat menyala. Dan akhirnya saat yang kutunggu-tunggu datang juga, motor Rika menyala.“Sa makan dulu yuk, aku laper dari siang belum makan” ucap Rika.
“Aku lagi susah begini kamu mikir makan. oke deh, tapi jangan lama-lama” jawabku dengan wajah melas.
Sampailah dirumah makan tujuan Rika. Rika segera memarkirkan motornya. Aku melihat sebuah motor yang tidak asing, motor itu seperti motorku namun motor itu berada dipaling ujung.
“Rik itu kaya motorku, tapi gak ada helmnya” ucapku.
“Motor kaya punyamu kan banyak sa. Saat pulangan saja kita liat yuk, aku laper sekali” ucap Rika sambil menarikku ke dalam.
Aku tidak nafsu makan, walaupun di depanku banyak hidangan makanan yang sangat lezat. Ada penyanyi yang mengalunkan sebuah lagu, suaranya lumayan bagus. Aku menoleh kebelakang untuk melihat penyanyinya. Tubuhku menegang, aku melihat seorang lelaki yang ku kenal sedang makan bersama seorang wanita di belakang mejaku. Dia pun melihatku. Segera aku melahap makananku agar cepat habis.
“Rik cepat habisin makananmu, kita pergi dari sini” ucapku.
“Sa di belakang mu ada Vandi, wah dia sama siapa ya?” ucap Rika.
Aku hanya diam, tidak menjawab ucapan Rika. Aku langsung meminta Rika agar mengantarku pulang. Sampai dirumah, aku memberi tahu orangtuaku. Mereka memarahiku terus- menerus. Aku sadar ini karena kecerobohanku. Aku tidur di sofa ruang tamu. Tiba-tiba terdengar suara pintu, “ah mungkin salah satu kakakku yang masuk” pikirku dalam hati. Aku pura-pura tidur. Tanganku terasa sakit, seperti ada yang mencubitku. Kubuka bantal dari mukaku yang daritadi kupegang untuk menutupi mukaku. Aku melihat cahaya lilin. Ketika itu senyum pun menyinari wajahku. Ya Rika lah yang membawa kue beserta lilin dengan beberapa teman-temanku. Aku segera meniup lilin-lilin tersebut, namun sulit sekali apinya hilang karena mereka memakai lilin magic. Dan seorang lelaki yang tadi kulihat di rumah makan pun datang dengan wanita yang tadi bersamanya. Wanita itu ternyata sepupunya. Seketika itu juga, lelaki itu mengeluarkan kotak berwarna hitam. Aku terkejut karena di dalamnya ada sepasang cincin berwarna keemasan, dan akupun menerimanya.
Rika memberiku sebuah hadiah kecil, dan kubuka ternyata dalamnya sebuah kunci motor. Ternyata Rika mengambil kunciku saat aku buang air kecil ketika saat di mall tadi. Aku memukulinya dan mengomelinya, dan ternyata Vandi lah yang merencanakan ini. Kulihat motorku sudah ada di depan rumah. Ya, kekasihku pencurinya. Ia selalu bisa membuat kejutan diluar dugaanku. Orangtuaku pun tahu perihal kejadian ini.Ya hari ini hari istimewaku, dan ini sangat mengesankan. Hari inilah umurku bertambah, disaat motorku hilang.
End
Jumat, 06 Mei 2016
Secarik karma
Aku bukan siburuk rupa
Tetapi sicantik jelita
Hatinya sedingin laut seperti seriuh es
Tak tertoleh sedikitpun
Apakah ini segaris karma?
Lampau banyak hati yang kutinggal
Apakah ini garis perawan tua?
Lampau akadku tolak
Tetapi sicantik jelita
Hatinya sedingin laut seperti seriuh es
Tak tertoleh sedikitpun
Apakah ini segaris karma?
Lampau banyak hati yang kutinggal
Apakah ini garis perawan tua?
Lampau akadku tolak
Langganan:
Postingan (Atom)